Showing posts with label BOOK Review. Show all posts
Showing posts with label BOOK Review. Show all posts

Tuesday, September 18, 2012

Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Pertama, mari ucapkan alhamdulillah karena saya berhasil menyelesaikan buku tebal berjudul Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan ini. I spent more than a week to finish it :'D


Awalnya...
Tersebutlah sang Pemindai Surga bernama Kashva, penganut ajaran Nabi Zardust dari Persia. Di Persia, pernah ada seorang Nabi bernama Zardust yang membawa agama suci dan menyebarkannya disana, namun seiiring berjalan waktu, Rakyat Persia mulai meninggalkan ajaran tersebut dan beralih menyembah ajaran lain yang menyimpang. Kashva mendapat kabar dari sahabat penanya, El, bahwa telah datang sosok manusia yang sejak berabad-abad sebelumnya sudah dituliskan kehadirannya di berbagai kitab lama. Sosok yang akan mengubah kehidupan manusia, pembawa kedamaian yang ajarannya akan berlaku melampaui zaman. Kashva penasaran dan ingin bertemu dengan dia. Begitu mendengar akan kedatangan sosok yang katanya akan mengubah dunia dan kemungkinan akan menguasai Persia juga, Kashva berpikir bahwa itu semua adalah murka Tuhan karena Persia telah lama meninggalkan ajaran Zardust. Ia pun datang kepada Raja Kosrou, Penguasa Persia, dan memberinya peringatan akan kedatangan Sang Al-Amin, maksudnya agar Raja Kosrou berhenti mengikuti ajaran lain selain ajaran suci Zardust. Namun yang terjadi, Raja tersebut murka dan mengurung Kashva. Kashva tahu Kosrou takut informasinya ini akan menjadi kenyataan atau membawa petaka bagi agamanya di Persia jika menyebar. Cepat atau lambat Kashva akan dibunuh, sedangkan keingintahuannya mengenai sosok Nabi terakhir itu begitu kuat. Kashva juga ingin bertemu El di Suriah. Kashva pun memutuskan untuk kabur dari Persia demi melakukan pengetahuan mengenai Nabi tersebut dan juga mencari sahabatnya, El.

Al-Amin, Yang Dapat Dipercaya...
Dikisahkan bahwa Kashva memulai petualangannya dalam mencari Nabi terakhir itu terjadi pada waktu yang sama di masa perjuangan Rasulullah SAW di Makkah dalam menyebarkan Islam. Sosok Muhammad, Nabi terakhir yang diagung-agungkan umat Islam di penjuru dunia dari masa ke masa itu digambarkan dengan begitu jelas dan apik oleh penulis, Tasaro GK. Sejarah mengenai Rasulullah SAW ditulis dengan gaya penceritaan novel yang indah, kita diajak melakukan perjalanan spiritual menuju alam-alam di Persia, India, dan Arab, dalam menelusuri jejak-jejak Rasulullah. Penulis menempatkan diri sebagai si pencerita saat menuliskan kisah Muhammad, sambil berkali-kali mempertanyakan berbagai hal tentang Rasullullah, yang secara tidak langsung mengajak kita meneladani sifat dan sikap Pemimpin Umat Manusia itu. 

"Apa yang kau rasakan kini, Duhai Lelaki yang Kata dan Perbuatan Tidak Pernah Bertentangan?" 

"Apakah engkau tertegun mendengar kalimat Shafiyyah melalui lisan anak laki-lakinya yang pemberani itu, wahai Lelaki yang Berhati Sekukuh Karang?"

"Sudah sampaikah kisah ini kepadamu, Wahai Lelaki Pembawa Lentera Ilmu?"

"Wahai Lelaki yang tidurnya sedikit, apa yang kau bincangkan dengan isterimu lewat lisanmu yang lembut itu?"

Biografi Rasulullah dalam perjuangannya menyebarkan Islam benar-benar membuat kita yang membacanya seolah terbawa ke masa itu. Kita benar-benar diajak mencintai Rasulullah dengan segala keteladanannya. Manusia paling mulia, Kekasih Allah, manusia yang sejak kelahirannya sudah dilindungi dan dibimbing langsung oleh Allah melalui keyatimannya.

Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan
Makna hujan adalah wahyu Tuhan. Namiuchi dalam kitab Weda berarti roh jahat yang berusaha menggenggam hujan. Namiuchi adalah bangsa yang ingin memonopoli wahyu Tuhan hanya untuk bangsa mereka sendiri. Siapapun Nabi yang dibangkitkan, ia akan menghancurkan Namiuchi, menghentikan dominasinya, membuktikan bahwa wahyu Tuhan turun untuk semua bangsa dan tidak terbatas pada suatu kasta atau klan saja. Dialah Muhammad SAW. Nabi yang akan memberikan kesegarannya kepada seluruh umat manusia. Lelaki Penggenggam Hujan sejati.

Jujur, dulu saya tidak benar-benar memahami, bagaimana kita bisa mencintai Muhammad sedangkan kita tidak benar-benar tahu sosoknya. Hanya karena saya seorang Muslim, jadi saya harus mencintai Nabi terakhir itu? Meski sudah diceritakan tentang berbagai sifatnya, namun saya masih belum benar-benar sungguh-sungguh mencintainya? Lalu, rasa penasaran untuk mengenal lebih dalam Rasulullah pun muncul. Dan seorang kawan merekomendasikan buku ini karena bahasanya yang menarik, dan saya pun memutuskan mencobanya. Subhanallah, saya benar-benar menyelesaikan buku ini dengan menangis. Saya sudah tidak memiliki keraguan atau pertanyaan lagi mengenai alasan untuk mencintainya. Saya mendapat pengertian kenapa banyak Muslim menangis ketika mengagungkan namanya melalui sholawat atau adzan. Dan kerinduan itu mulai muncul. Kerinduan terhadap Manusia yang Kesabarannya Menjadi Teladan dan ditempatkan di surga terindah oleh Allah SWT.

Subhanallah, tak ada keraguan bagi-Mu Allah sebagai satu-satunya Tuhan semesta Alam, dan Muhammad sebagai utusan-Mu.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Sunday, April 8, 2012

Hafalan Shalat Delisa

Nah, gue mau mengisi waktu luang ini dengan mereview sebuah film dan buku yang berjudul Hafalan Shalat Delisa. 


Alasan pertama membaca dan menontonnya tentu saja karena nama tokoh utamanya hampir mirip dengan nama gue sendiri, hehehe. Cuma beda di huruf L dan N. Gue tidak punya ekspektasi besar saat membaca / menonton HSD (Hafalan Shalat Delisa), tapi ternyata, cerita dari Tere Liye ini membawa cukup pengaruh besar dalam hidup gue sekarang. Kisah ini membuat gue menyadari banyak hal tentang sifat-sifat diri sendiri, tentang agama, tentang cobaan yang sesungguhnya, dan banyak lagi. So, here's the review: 

Anak Perempuan yang Sangat Menyukai Hadiah... 
Hafalan Shalat Delisa mengisahkan seorang anak perempuan periang berumur 6 tahun bernama Delisa dengan menggunakan bencana Tsunami di Aceh tahun 2004 lalu sebagai latar ceritanya. Delisa terlahir dari keluarga Islami dari Lhok Nga, Aceh. Ia mempunyai tiga kakak perempuan, Fatimah (15), Zahra (12), dan Aisyah (12), dengan ibu yang luar biasa, Ummi Salamah. Ayah mereka, Abi Usman, bekerja di kapal pesiar dan hanya pulang ke rumah setiap 3 bulan sekali. Seperti kebanyakan anak pada umumnya di umur 6 tahun, Delisa juga sedang dalam proses belajar tentang agama Islam dan menghafal bacaan shalat. Delisa semakin bersemangat untuk menghafal bacaan shalatnya karena setiap kali anak dari keluarga lolos praktek shalat, Ummi-nya akan menghadiahi mereka dengan sebuah kalung. Khusus untuk Delisa, kalung-nya terdapat gantungan D yang berarti Delisa. Dan kalung itu akan menjadi pusat dari seluruh kisah gadis kecil ini... 

"Delisa cinta Ummi karena Allah..." 
Adegan dimana Delisa mengatakan kepada Ummi-nya, "Delisa cinta Ummi karena Allah..." adalah salah satu yang terbaik. Adegan ini, baik di dalam buku maupun filmnya, begitu sederhana tapi bermakna besar. Mengajarkan pada kita arti cinta yang sesungguhnya, bahwa rasa itu, getar-getar itu, datangnya dari Allah dan cinta yang sejati adalah cinta karena Allah. Merupakan Sunnah Rasul untuk memberitahu kepada semua orang yang kita cintai bahwa kita mencintai mereka karena Allah. Meskipun Delisa mengatakannya karena ia akan mendapat coklat dari Ustad Rahman, tapi ketika mengatakan hal itu kepada Ummi-nya, ia sungguh-sungguh. Perbedaan antara film dengan bukunya adalah, di dalam buku, Delisa mengucapkan kata-kata luar biasa itu sehabis shalat Subuh berjamaah, sehari sebelum bencana Tsunami terjadi. Sedangkan di filmnya, Delisa mengatakannya sehabis shalat Maghrib, dua hari sebelum bencana itu terjadi. 

"Kau akan memiliki lebih banyak teman dibandingkan seluruh dunia dan seisinya..." 

Bencana itu terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, hari dimana Delisa melakukan test hapalan shalat-nya. Hari yang Delisa tunggu-tunggu, selain karena ia yakin ia sudah hapal bacaan shalatnya, ia juga akan mendapat kalungnya. Tapi di atas itu semua, ia ingin melakukan shalat sempurna-nya kepada Allah untuk pertama kalinya. Namun, takdir berkata lain. Gempa itu datang saat Delisa baru memulai praktik shalatnya, namun Subhanallah, ia tak bergeming. Tetap khusyuk, tidak peduli meski Ummi-nya sudah berteriak-teriak memanggilnya, memintanya menyelamatkan diri, Delisa tetap melanjutkan shalatnya. Ia ingat kata-kata Ustad-nya, bahwa ia harus khusyuk ketika shalat. Tidak memikirkan apapun selain beribadah kepada Allah, tidak peduli apapun yang terjadi. Namun, Delisa tidak diizinkan menyelesaikan shalatnya karena Tsunami itu datang dan menghanyutkannya sebelum ia sempat sujud.

"Delisa sedih karena kak Fatimah, kak Zahra, dan kak Aisyah, semuanya pergi ninggalin Delisa. Delisa takut sendirian..." 

"Jangan takut, Sayang. Kamu akan memiliki jauh lebih banyak teman dibandingkan seluruh dunia dan isinya.." 

Delisa selamat. Ia bertahan hidup, bahkan ketika ia terdampar sendirian, menunggu pertolongan. Delisa kehilangan segalanya. Kakak-kakaknya meninggal oleh bencana itu. Rumahnya hancur. Semua teman-teman dan gurunya meninggal. Ummi-nya pun tidak ditemukan. Dan Delisa kehilangan kaki kanannya. Namun semua itu membuatnya belajar. Ia belajar untuk menerima apa yang telah terjadi. Ia memutuskan untuk tidak menangisi semua kehilangannya terlalu lama. Gadis kecil itu menjadi dewasa dibanding anak-anak seusianya karena ia belajar ikhlas atas semua cobaan yang menimpanya. 

"Delisa Cinta Abi karena Allah..." 
Adegan ini juga sama berkesannya dengan yang pertama. Delisa mengatakan kalimat itu lagi untuk Abi-nya,"Delisa cinta Abi karena Allah..." dan kali ini tanpa mengharap hadiah apapun. Kalimat itu diucapkannya ketika ia melihat Ayahnya menangis setelah shalat Tahajud. Menangis karena merindukan isterinya dan ketiga putrinya yang meninggal. Menangis karena merasa begitu lemah. Kata-kata itu menyadarkan Abi Usman betapa ia harus bersyukur atas apapun yang telah terjadi. Bahwa cintanya kepada keluarganya semata-mata karena Allah, dan segalanya pasti kembali kepada Allah. Saat itu ia sadar bahwa ia dilindungi oleh keberadaan bungsunya yang tetap menunjukkan keceriaan di atas segala bencana itu. 

Hafalan Shalat Delisa yang menghilang dari memori-nya... 
Di bukunya, Delisa kehilangan semua memori tentang bacaan shalatnya setelah bencana Tsunami itu, begitupun memori tentang kalungnya. Ia ingat segala hal kecuali kalung dan hafalan shalatnya. Meski begitu, Delisa tetap menjalankan shalat, meski ia tak bisa mengingat sama sekali bacaan shalatnya, ia tetap ingin shalat. Delisa adalah anak yang cerdas, ia tahu ada yang salah. Kenapa ia tidak bisa mengingat bacaan shalatnya sama sekali?

Melalui sebuah mimpi yang begitu indah, mimpi dari Allah yang tidak akan pernah Delisa lupakan sepanjang hayatnya, Delisa dipertemukan dengan Ummi-nya. Mimpi itu mengingatkan Delisa, dulu ia belajar shalat untuk mendapat hadiah kalung, bukan untuk Allah. Dan begitu mengingat segalanya kembali, gadis kecil itu menangis. Ya, anak berumur 6 tahun itu menangis karena menyadari kesalahannya. Bahkan kita saja yang sudah dewasa ini masih suka merasa biasa saja kalau melewatkan shalat atau melakukan dosa lainnya, tetapi anak kecil berumur 6 tahun itu menangis karena ia pernah berniat shalat bukan karena Allah. 

"Delisa tidak ingin kalung, Ummi. Delisa hanya ingin shalat dengan baik agar Delisa bisa mendoakan Ummi, mendoakan kak Fatimah, kak Aisyah, kak Zahra, Tiur, Ummi Tiur, kakak-kakaknya Umam, dan semua teman-teman di Lhok Nga yang sudah pergi... "

"Kalung itu akan tetap menjadi milikmu, Sayang." 

Setelah mimpi itu, bacaan shalat itu seperti berbicara pada Delisa... Ia bisa mengingatnya kembali dan untuk pertama kalinya, Delisa bisa melakukan shalatnya yang sempurna untuk pertama kalinya.

***

Semoga bermanfaat. Very recommended 💗

Thursday, September 29, 2011

Sebelas Patriot

Andrea Hirata adalah salah satu penulis terhebat sepanjang masa. Paling tidak, begitulah menurut gue. Sudah gue baca semua buku-bukunya dari Laskar Pelangi hingga Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas. Nggak ada satupun dari buku-buku itu gagal membuat terkesan. Keindahan tulisannya yang dibalut gaya melayu memang dijamin membuat pecinta sastra manapun jatuh cinta. Serius. Lihat, gaya tulisan gue jadi sedikit seperti dia karena gue baru saja membaca Sebelas Patriot, hehehe..

Sebelas Patriot adalah buku yang halamannya paling sedikit diantara buku-buku Andrea yang pernah ia terbitkan. Cuma 105 halaman kurang lebih. Dua atau tiga jam saja bisa selesai. Kisah ini masih berpusar tentang Ikal dan pengalamannya. Kali ini, Andrea menceritakan tentang Ayahnya dan sepak bola. Singkatnya, Ayahnya adalah mantan pemain sepak bola terhebat yang pernah ada, namun karena kekejaman Belanda di masa penjajahan, mimpi Ayahnya hancur. Cara Belanda menjajah Indonesia tidak hanya dengan memaksa rakyat kita bekerja rodi saja. Mereka juga melarang keras rakyat Indonesia saat itu untuk menang melawan tim Belanda dalam pertandingan olahraga apapun. Mereka harus selalu mengalah pada Belanda, seberapa hebatpun mereka. Jika mereka membangkang, Belanda tak segan menaikkan mereka ke dalam Tangsi dan membuat mereka tak berani bermain olahraga lagi. Tapi, Ayah Ikal dan kedua saudaranya tidak mau menjadi pengecut. Mereka adalah tiga bersaudara yang mencintai sepak bola, dan mereka adalah pemain yang handal. Di lapangan, mereka merasa merdeka karena bisa bermain bola dengan bebas, dan mereka ingin menunjukkan kemerdekaan itu dengan tidak menunjukkan sikap mengalah pada Belanda. Sikap perlawanan itu mengakibatkan Belanda memutuskan untuk mengakhiri mimpi tiga pahlawan lapangan ini. Dan hal ini membuat Ikal terpacu untuk melanjutkan impian Ayahnya, walau Ayahnya tak pernah memintanya. Disini kita juga diajak untuk mencintai Tim Sepak Bola PSSI karena mencintai Tim Sepak Bola sendiri adalah 10% mencintai bola dan 90% mencintai Tanah Air. Karena bagi Ikal dan Ayahnya, sepak bola adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap penjajahan yang pernah menimpa mereka.

Apik sekali cara Andrea menuliskan kisah yang diambil dari sejarah Ayahnya ini. Gue bukan penggemar sepak bola atau olahraga manapun. Gue nggak suka menonton acara kompetisi, tapi gue nggak tau sepakbola bisa terlihat begitu indah. Cara Andrea menggambarkan sepak bola ke dalam sastra akan membuat penggemar bola manapun semakin mencintai sepak bola. Dan satu hal yang selalu gue dapatkan dari semua buku Andrea; gue jadi semakin menyayangi dan menghargai Ayah sendiri.

"Trompet memekakkan, kembang api yang ditembakkan, dan api suar yang dilambai-lambaikan dari atas pagar pembatas adalah perayaan kegembiraan. Bendera raksasa yang berkibar-kibar adalah psikologi. Mars penyemangat yang gegap gempita adalah seni. Orang-orang yang duduk di podium kehormatan adalah politik, dan orang-orang berdasi yang sibuk dengan telepon genggamnya di belakang jajaran politisi itu adalah bisnis. Orang-orang yang berdesak-desakkan di mobil omprengan demi mendukung PSSI adalah Patriotisme..."

Intinya, jika lo pecinta sepak bola, maka novel ini adalah bacaan wajib. Kalaupun bukan, novel ini adalah salah satu dari sedikit sastra yang menginspirasi kita untuk tidak pernah berhenti mendukung tim sepak bola negara kita.

Terimakasih lho, mas Andis, karena novel ini telah membangkitkan semangat membaca gue lagi yang beberapa bulan ini sempat hilang terbawa angin. Semangat dan maju terus, Tim Sepak Bola Indonesia!!

Wednesday, May 18, 2011

Nothing Much

Hey guys...

I'm so tired. It supposed to be a day off today but my friends called me to work on our college assignment. Btw, today is one of my friend's birthday. Happy birthday, Mella. May all the best go with you. Stay happy ^^

Yesterday, I bought the next series of Diary of a Wimpy Kid, The Last Straw. I love this book. I suggest you guys read it too. It will help you learn English in a fun way. It's quite easy to understand and very funny. So far, I've collected two books of the series:



The author made this book a diary of a wimpy kid. This is a diary of Greg Heffley, a middle school student who thinks that he is the most perfect human being on earth. He writes down all of his thoughts and point of view about his life in this book in a funny way. Gergory Heffley receives a diary from his mother, which he refers to as a journal, and in it records his years of middle school and so on. Somehow, reading this book will encourage me to write more on this blog. I don't care if nobody read my blog though, because I write in here for my own sake and it feels good when you recall all of your memories from the past through your writing/diary/journal.

On a very different note, tomorrow I will have a sleepover with Mabiters 2011, Aroma, and Rombeng (akhwat) at Cibubur. It's my turn to accompany these girls this week. The good news is, Mia and Tyas will accompany me. And probably, Maya will go along with us too. Yaaay... I'm so excited. We feel so nostalgic because last year, we did the same thing as what these mabiters doing now: living in a strange place with your friends only for about 2 weeks. It was a great time, though. ^^

Okay, now news about my beloved boys, Hey!Say!JUMP
Hikaru Yaotome will be staring in a new drama titled You Are Beautiful, a remake of K-Drama. I'm so looking forward to it. Finally, JUMP members are back to acting again... Yaaay~ I've heard the clear version of Over song, Hey!Say!JUMP's new single. I'm not being biased, but the song is really awesome. I can't wait for the PV!! And Screw song which is Hey!Say!BEST's new song in the new single is also very good. The song itself is written by Kota Yabu (again!!). He really needs to make his own album which filled with his own songs, but I want him to stay with JUMP though ^^

Okay, that's all. Catch you later~

Thursday, February 24, 2011

Holiday and Gokusen Manga

Hey there~

I'm still on my college holiday. Four days are left for the holiday, and my 2nd semester starts next week. Time flies faster than I thought. My sleep time has been totally messed up during the holiday. Night turns into day, and day turns into night. Seriously, I've been staying up all night long. Usually, I spend those time watching Japanese dorama and being online. I really need to fix my sleeping time since it's getting closer to the end of the holiday. I think I'll sleep normally again starting Saturday. Anyway, this holiday is so dull. I thought it would be great to have a long holiday, like a month. I thought I would have so much fun. I was wrong. I am totally stuck in my house. I almost have nothing to do, which sucks. Well, I went to NF a few times to meet my Mabit friends, and I had good times there, but I can't go to Mampang every day for some reason. I did meet up with my best friend from high school, Danty, who goes to the University of Diponegoro in Semarang, so we can only meet on holiday. But that's just once, since her house is too far from my house, even though we live in the same city, I can't see her as much as I want to. Oh, last week I went to Car Free Day with my friends Maya and Fahda. You know, a cycling event in Jakarta which is held once every two weeks. It was fun. My friends and I were biking from Kuningan to Monas. My bike was really slow because there was something wrong with the wheels. But that was fun. It's been a while since my last exercise, so my body felt so tired, and I couldn't move my legs after that. Hahaha, how lame.


That was a little bit about how my holiday was. Hmm... what else to say yaaa?

The Gokusen manga

But the storyline was totally different. Yankumi's character is a bit different from the dorama. She's more tomboyish, unlike Yankumi in the drama, who's kind of feminine and girly sometimes. What I love the most about this manga is the presence of "The Young Master Red Lion," aka Shin Sawada. Apparently, he got that nickname from Yankumi's Yakuza family because they really liked Shin and thought Shin was fit to be the next Yakuza leader if Yankumi won't take that role. The manga was as funny as the live-action, but the relationship between Shin and Yankumi looks way cuter here than in the live-action. It's a teacher x student where the student is in love with his teacher, so it may not be everyone's cup of tea, tho I wish this pairing existed in the dorama because the Gokusen live-action was really good, but there were not many ShinKumi's romantic scenes in it. Even though in the last episode, Shin said to Shinohara-san that he likes Yankumi romantically. But that's it. Shin didn't appear in the 2nd and 3rd seasons. Well, that's okay. Anyway... the manga was telling about more than just Yankumi's life with the students. It also tells about the Yakuza family's problems and cultures, which is funny sometimes. And Shin is also funnier. It was funny when Shin really tried to reach Yankumi's attention by following some weird advice from Yankumi's uncle (I forgot his name), who knew Shin's feelings towards Yankumi. You can't find those parts in the live-action.


Anyway, this manga is really recommended. Hehe, since the storyline is so different from the live-action, you will still be surprised. And seriously, Shin Sawada is freaking gorgeous 💕


Yankumi and Sawada Shin in Yakuza style
"The Young Master Red Lion"
Yankumi with her students, Shin, Kuma, Uchi, Noda, and Minami

Nah, that's all for today. I really need to sleep now because I haven't sleep at all since last night. Bye-bye..