Tuesday, September 18, 2012
Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan
Sunday, April 8, 2012
Hafalan Shalat Delisa
Alasan pertama membaca dan menontonnya tentu saja karena nama tokoh utamanya hampir mirip dengan nama gue sendiri, hehehe. Cuma beda di huruf L dan N. Gue tidak punya ekspektasi besar saat membaca / menonton HSD (Hafalan Shalat Delisa), tapi ternyata, cerita dari Tere Liye ini membawa cukup pengaruh besar dalam hidup gue sekarang. Kisah ini membuat gue menyadari banyak hal tentang sifat-sifat diri sendiri, tentang agama, tentang cobaan yang sesungguhnya, dan banyak lagi. So, here's the review:
Anak Perempuan yang Sangat Menyukai Hadiah...
Hafalan Shalat Delisa mengisahkan seorang anak perempuan periang berumur 6 tahun bernama Delisa dengan menggunakan bencana Tsunami di Aceh tahun 2004 lalu sebagai latar ceritanya. Delisa terlahir dari keluarga Islami dari Lhok Nga, Aceh. Ia mempunyai tiga kakak perempuan, Fatimah (15), Zahra (12), dan Aisyah (12), dengan ibu yang luar biasa, Ummi Salamah. Ayah mereka, Abi Usman, bekerja di kapal pesiar dan hanya pulang ke rumah setiap 3 bulan sekali. Seperti kebanyakan anak pada umumnya di umur 6 tahun, Delisa juga sedang dalam proses belajar tentang agama Islam dan menghafal bacaan shalat. Delisa semakin bersemangat untuk menghafal bacaan shalatnya karena setiap kali anak dari keluarga lolos praktek shalat, Ummi-nya akan menghadiahi mereka dengan sebuah kalung. Khusus untuk Delisa, kalung-nya terdapat gantungan D yang berarti Delisa. Dan kalung itu akan menjadi pusat dari seluruh kisah gadis kecil ini...
"Delisa cinta Ummi karena Allah..."
Adegan dimana Delisa mengatakan kepada Ummi-nya, "Delisa cinta Ummi karena Allah..." adalah salah satu yang terbaik. Adegan ini, baik di dalam buku maupun filmnya, begitu sederhana tapi bermakna besar. Mengajarkan pada kita arti cinta yang sesungguhnya, bahwa rasa itu, getar-getar itu, datangnya dari Allah dan cinta yang sejati adalah cinta karena Allah. Merupakan Sunnah Rasul untuk memberitahu kepada semua orang yang kita cintai bahwa kita mencintai mereka karena Allah. Meskipun Delisa mengatakannya karena ia akan mendapat coklat dari Ustad Rahman, tapi ketika mengatakan hal itu kepada Ummi-nya, ia sungguh-sungguh. Perbedaan antara film dengan bukunya adalah, di dalam buku, Delisa mengucapkan kata-kata luar biasa itu sehabis shalat Subuh berjamaah, sehari sebelum bencana Tsunami terjadi. Sedangkan di filmnya, Delisa mengatakannya sehabis shalat Maghrib, dua hari sebelum bencana itu terjadi. "Kau akan memiliki lebih banyak teman dibandingkan seluruh dunia dan seisinya..."
Bencana itu terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, hari dimana Delisa melakukan test hapalan shalat-nya. Hari yang Delisa tunggu-tunggu, selain karena ia yakin ia sudah hapal bacaan shalatnya, ia juga akan mendapat kalungnya. Tapi di atas itu semua, ia ingin melakukan shalat sempurna-nya kepada Allah untuk pertama kalinya. Namun, takdir berkata lain. Gempa itu datang saat Delisa baru memulai praktik shalatnya, namun Subhanallah, ia tak bergeming. Tetap khusyuk, tidak peduli meski Ummi-nya sudah berteriak-teriak memanggilnya, memintanya menyelamatkan diri, Delisa tetap melanjutkan shalatnya. Ia ingat kata-kata Ustad-nya, bahwa ia harus khusyuk ketika shalat. Tidak memikirkan apapun selain beribadah kepada Allah, tidak peduli apapun yang terjadi. Namun, Delisa tidak diizinkan menyelesaikan shalatnya karena Tsunami itu datang dan menghanyutkannya sebelum ia sempat sujud.
"Delisa sedih karena kak Fatimah, kak Zahra, dan kak Aisyah, semuanya pergi ninggalin Delisa. Delisa takut sendirian..."
"Jangan takut, Sayang. Kamu akan memiliki jauh lebih banyak teman dibandingkan seluruh dunia dan isinya.."
Delisa selamat. Ia bertahan hidup, bahkan ketika ia terdampar sendirian, menunggu pertolongan. Delisa kehilangan segalanya. Kakak-kakaknya meninggal oleh bencana itu. Rumahnya hancur. Semua teman-teman dan gurunya meninggal. Ummi-nya pun tidak ditemukan. Dan Delisa kehilangan kaki kanannya. Namun semua itu membuatnya belajar. Ia belajar untuk menerima apa yang telah terjadi. Ia memutuskan untuk tidak menangisi semua kehilangannya terlalu lama. Gadis kecil itu menjadi dewasa dibanding anak-anak seusianya karena ia belajar ikhlas atas semua cobaan yang menimpanya.
"Delisa Cinta Abi karena Allah..."
Adegan ini juga sama berkesannya dengan yang pertama. Delisa mengatakan kalimat itu lagi untuk Abi-nya,"Delisa cinta Abi karena Allah..." dan kali ini tanpa mengharap hadiah apapun. Kalimat itu diucapkannya ketika ia melihat Ayahnya menangis setelah shalat Tahajud. Menangis karena merindukan isterinya dan ketiga putrinya yang meninggal. Menangis karena merasa begitu lemah. Kata-kata itu menyadarkan Abi Usman betapa ia harus bersyukur atas apapun yang telah terjadi. Bahwa cintanya kepada keluarganya semata-mata karena Allah, dan segalanya pasti kembali kepada Allah. Saat itu ia sadar bahwa ia dilindungi oleh keberadaan bungsunya yang tetap menunjukkan keceriaan di atas segala bencana itu.
Hafalan Shalat Delisa yang menghilang dari memori-nya...
Di bukunya, Delisa kehilangan semua memori tentang bacaan shalatnya setelah bencana Tsunami itu, begitupun memori tentang kalungnya. Ia ingat segala hal kecuali kalung dan hafalan shalatnya. Meski begitu, Delisa tetap menjalankan shalat, meski ia tak bisa mengingat sama sekali bacaan shalatnya, ia tetap ingin shalat. Delisa adalah anak yang cerdas, ia tahu ada yang salah. Kenapa ia tidak bisa mengingat bacaan shalatnya sama sekali?
Melalui sebuah mimpi yang begitu indah, mimpi dari Allah yang tidak akan pernah Delisa lupakan sepanjang hayatnya, Delisa dipertemukan dengan Ummi-nya. Mimpi itu mengingatkan Delisa, dulu ia belajar shalat untuk mendapat hadiah kalung, bukan untuk Allah. Dan begitu mengingat segalanya kembali, gadis kecil itu menangis. Ya, anak berumur 6 tahun itu menangis karena menyadari kesalahannya. Bahkan kita saja yang sudah dewasa ini masih suka merasa biasa saja kalau melewatkan shalat atau melakukan dosa lainnya, tetapi anak kecil berumur 6 tahun itu menangis karena ia pernah berniat shalat bukan karena Allah.
"Delisa tidak ingin kalung, Ummi. Delisa hanya ingin shalat dengan baik agar Delisa bisa mendoakan Ummi, mendoakan kak Fatimah, kak Aisyah, kak Zahra, Tiur, Ummi Tiur, kakak-kakaknya Umam, dan semua teman-teman di Lhok Nga yang sudah pergi... "
"Kalung itu akan tetap menjadi milikmu, Sayang."
Setelah mimpi itu, bacaan shalat itu seperti berbicara pada Delisa... Ia bisa mengingatnya kembali dan untuk pertama kalinya, Delisa bisa melakukan shalatnya yang sempurna untuk pertama kalinya.
***
Semoga bermanfaat. Very recommended 💗
Thursday, September 29, 2011
Sebelas Patriot
Wednesday, May 18, 2011
Nothing Much
Thursday, February 24, 2011
Holiday and Gokusen Manga
I'm still on my college holiday. Four days are left for the holiday, and my 2nd semester starts next week. Time flies faster than I thought. My sleep time has been totally messed up during the holiday. Night turns into day, and day turns into night. Seriously, I've been staying up all night long. Usually, I spend those time watching Japanese dorama and being online. I really need to fix my sleeping time since it's getting closer to the end of the holiday. I think I'll sleep normally again starting Saturday. Anyway, this holiday is so dull. I thought it would be great to have a long holiday, like a month. I thought I would have so much fun. I was wrong. I am totally stuck in my house. I almost have nothing to do, which sucks. Well, I went to NF a few times to meet my Mabit friends, and I had good times there, but I can't go to Mampang every day for some reason. I did meet up with my best friend from high school, Danty, who goes to the University of Diponegoro in Semarang, so we can only meet on holiday. But that's just once, since her house is too far from my house, even though we live in the same city, I can't see her as much as I want to. Oh, last week I went to Car Free Day with my friends Maya and Fahda. You know, a cycling event in Jakarta which is held once every two weeks. It was fun. My friends and I were biking from Kuningan to Monas. My bike was really slow because there was something wrong with the wheels. But that was fun. It's been a while since my last exercise, so my body felt so tired, and I couldn't move my legs after that. Hahaha, how lame.
![]() |
| The Gokusen manga |
But the storyline was totally different. Yankumi's character is a bit different from the dorama. She's more tomboyish, unlike Yankumi in the drama, who's kind of feminine and girly sometimes. What I love the most about this manga is the presence of "The Young Master Red Lion," aka Shin Sawada. Apparently, he got that nickname from Yankumi's Yakuza family because they really liked Shin and thought Shin was fit to be the next Yakuza leader if Yankumi won't take that role. The manga was as funny as the live-action, but the relationship between Shin and Yankumi looks way cuter here than in the live-action. It's a teacher x student where the student is in love with his teacher, so it may not be everyone's cup of tea, tho I wish this pairing existed in the dorama because the Gokusen live-action was really good, but there were not many ShinKumi's romantic scenes in it. Even though in the last episode, Shin said to Shinohara-san that he likes Yankumi romantically. But that's it. Shin didn't appear in the 2nd and 3rd seasons. Well, that's okay. Anyway... the manga was telling about more than just Yankumi's life with the students. It also tells about the Yakuza family's problems and cultures, which is funny sometimes. And Shin is also funnier. It was funny when Shin really tried to reach Yankumi's attention by following some weird advice from Yankumi's uncle (I forgot his name), who knew Shin's feelings towards Yankumi. You can't find those parts in the live-action.
Anyway, this manga is really recommended. Hehe, since the storyline is so different from the live-action, you will still be surprised. And seriously, Shin Sawada is freaking gorgeous 💕
![]() |
| Yankumi and Sawada Shin in Yakuza style |
![]() |
| "The Young Master Red Lion" |
![]() |
| Yankumi with her students, Shin, Kuma, Uchi, Noda, and Minami |
![]() |










