Sunday, July 7, 2013

How Love Hurts in Last Friends (Jdrama)

Last Friends adalah drama Jepang yang mengangkat tema yang cukup berat, yakni tentang Domestic Violence, Sexual abuse, Broken Home Family, and LGBTQ+. Last Friends berhasil membahas berbagai subjek secara transparan, kita benar-benar diajak bersentuhan dengan beberapa problem sensitif yang diangkat untuk mengerti jalan ceritanya. 

The Story
Kisah ini berputar tentang persahabatan, dimana setiap tokohnya memiliki masalah psikologi dan latar belakang yang berbeda-beda. 

Michiru Aida (Masami Nagasawa), gadis cantik dan feminin yang bekerja di salon kecantikan, namun di tempat kerjanya, ia di-bully oleh seniornya atas dasar persaingan. Michiru terlalu lemah untuk melawan. Di rumah, Ibu Michiru cuma bisa mabuk-mabukan dan membawa pulang seorang pria asing. Ayah dan Ibunya bercerai saat Michiru masih sekolah akibat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), sang suami sering memukuli Ibunya. Dalam segala kegelapan dan masalah hidupnya itu, Michiru masih memiliki satu sumber kebahagiaan, yaitu kekasihnya, Sousuke Oikawa (Ryo Nishikido)

Ruka Kishimoto (Juri Ueno), kebalikan dari Michiru, adalah gadis tomboy yang bisa melindungi dirinya sendiri. Ruka adalah motocross racer handal. Berbeda dengan Michiru, Ruka berasal dari keluarga yang hangat dan senantiasa mendukungnya. Penampilannya tomboy, dan Ruka benci ketika ia diremehkan. Ruka memilih fokus pada olahraga motocross untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa sekuat laki-laki. Michiru dan Ruka memiliki persahabatan yang begitu dalam. Tanpa sepengetahuan Michiru, Ruka sebenarnya memiliki perasaan yang jauh lebih dalam dari sekedar persahabatan terhadap Michiru, namun tentu saja, Ruka hanya bisa menyimpannya sebagai rahasia. 


Takeru Mizushima (Eita),  seorang pria tampan yang bekerja sebagai hairstylist dan make up artist juga Bartender. Takeru merasakan ketertarikan yang unik begitu bertemu Ruka. Mereka memiliki banyak kemiripan dan entah bagaimana, Takeru selalu bisa mengerti isi hati Ruka. Takeru, seperti Ruka, menyimpan sebuah rahasia yang mendalam. Ia memiliki trauma terhadap perempuan dan sentuhan mereka karena ia mengalami kekerasan seksual ketika ia kecil. Hal ini membuat Takeru membenci dan ingin kabur dari rumahnya hingga akhirnya Takeru memutuskan untuk pindah ke Share House bersama Ruka dan Eri.

Eri Takigawa (Asami Mizukawa) adalah sahabat sekaligus teman serumah Ruka di sebuah Share House. Eri bekerja sebagai pramugari pesawat, sangat periang dan selalu menghidupkan suasana. Wanita sukses yang bebas. Eri memiliki hubungan spesial yang tidak jelas dengan teman sekantornya Tomohiko Ogura yang kemudian tinggal bersama mereka di Share House. Hubungan mereka tidak jelas karena Ogurin masih memiliki Isteri, sedangkan isterinya berselingkuh dengan orang lain dan ia tidak berani meminta cerai. Eri menjadi pelindung dan tempat pelariannya.

Suatu hari, Sousuke mengajak Michiru tinggal bersamanya di apartemen pribadinya. Sousuke adalah pegawai negara yang bekerja di Divisi Pengawasan Anak-Anak (atau semacamnya). Tipikal pria baik-baik idaman wanita. Michiru merasa bahwa Sousuke mirip dengannya karena Sousuke juga ditinggal Ibunya saat ia masih di sekolah dasar dan sejak itu, Sousuke tidak memiliki keluarga tetap. Karena tidak ingin terjebak bersama Ibunya yang cuma hanya bisa mabuk-mabukan dan membawa pulang pria ke rumah, Michiru pun setuju untuk tinggal bersama Sousuke demi meraih kebahagiannya. 


Kebahagiaan yang diharapkan Michiru tidak bertahan lama karena begitu ia mulai tinggal bersama Sousuke, sifat aslinya muncul. Berawal dari sebuah email dari Ruka, Sousuke berubah menjadi pencemburu dan menduga bahwa Ruka adalah laki-laki simpanan Michiru. Ketika Michiru tidak bisa membuktikan bahwa Ruka adalah perempuan karena handphone-nya tidak aktif, Sousuke mulai melakukan tindakan kekerasan seperti memecahkan meja dan memukulnya. Bahkan setelah tau bahwa Ruka adalah perempuan pun, Sousuke tetap merasa bahwa Ruka adalah ancaman bagi hubungannya. Ia bisa melihat sesuatu dalam diri Ruka yang tidak dilihat oleh Michiru, karena itu ia melarang Michiru untuk berhubungan dengannya. Semakin hari, Sousuke semakin menakutkan Michiru dengan kecemburuan dan sifat posesifnya, tapi di atas semua itu adalah tindak kekerasannya terhadap Michiru yang membuatnya akhirnya memutuskan kabur dan memohon perlindungan dari Ruka.

Love Triangle in an odd way
Ruka begitu protektif terhadap Michiru. Teman-temannya di Share House, Takeru, Eri, dan Ogurin pun juga berusaha melindungi Michiru dari Sousuke. Takeru melindungi Michiru dengan sepenuh hatinya karena ia ingin melindungi Ruka dan menjaga senyumannya. Awalnya Michiru senang karena bisa tinggal bersama teman-teman barunya di Share House, tapi Sousuke tidak membiarkan hal itu bertahan lama. Sousuke menghabiskan malam di tengah hujan hingga pagi demi menunggu Michiru dan membuatnya luluh. Ketika Michiru memulai kehidupannya yang lebih baik di Share House, Sousuke mengatakan padanya bahwa ia lebih baik mati daripada hidup tanpa Michiru. Michiru pun memutuskan untuk kembali padanya. Hal ini membuat Ruka kesal karena setelah semua yang ia dan teman-temannya lakukan untuk melindunginya, Michiru malah kembali lagi pada kekasihnya yang psikopat. Beberapa waktu setelah kepergian Michiru dari Share House, Takeru mampir ke apartemen Sousuke demi melihat keadaan Michiru dan menemukannya dalam keadaan depresi parah dan penuh luka. Michiru tak lagi bisa membedakan kehidupannya dan segala yang dilakukannya adalah untuk Sousuke, namun jelas bahwa kebahagiannya hilang. Tanpa pikir panjang, Takeru segera menariknya kembali ke Share House. 

We're like domino. I fall for you, you fall for someone else
Di sisi lain, Ruka menderita karena menyembunyikan dirinya yang sebenarnya dari orang-orang terdekatnya. Menurut Psikiater, Ruka memerlukan paling tidak satu orang untuk terbuka tentang dirinya, dan tentu saja orang itu bukan Michiru. Ruka memutuskan untuk mengungkapkan kebenaran tentang dirinya pada Takeru. Mereka telah menjadi sahabat yang selalu bisa mengerti satu sama lain, dan bahkan Takeru selalu lebih peka dari Michiru mengenai Ruka. Tapi, ketika Ruka hendak memberitahu Takeru, Takeru justru menyatakan bahwa ia jatuh cinta pada Ruka. Akhirnya Ruka memutuskan untuk keluar dari Share House tanpa memberitahukan rahasianya pada siapapun. Ruka takut tidak ada seorangpun yang akan menerimanya. Ia tidak ingin diterima sebagai perempuan ataupun laki-laki, melainkan sebagai manusia dengan segala kurang dan lebih yang ia miliki. Jika tetap berada di Share House bersama Michiru, ia hanya bisa terus menahan perasaannya, dan ia tak ingin menodai perasaan Takeru jika ia tahu siapa Ruka sebenarnya. Sementara Michiru mulai menyukai Takeru yang terus bersikap baik dan protektif terhadapnya, Sousuke mulai menyakiti orang-orang yang dianggapnya telah mengambil Michiru darinya.


I rated it 90 out of 100. This drama is so intense and heartbreaking. I got scared but the story kept me watching because I was curious about how the story goes in the next episode. Berawal dari rasa penasaran sama aktingnya Ryo Nishikido yang berperan sebagai psychopath, I decided to give this drama a try. I'm a big fan of him as an actor. He's brilliant in portraying good, protagonist roles, so to see him act as an antagonist is interesting. I got mixed feelings when I watched it, and that farewell letter he gave in the last episode.......... It was too good and I was like, no, don't die!!!! Oh well, it's been a while since I cried this much for the drama 😂

Monday, July 1, 2013

#VICC - Day 2 (20.06.13) - Beach Rehearsal, Red Team!

So, it's our 2nd day in Hoi An. We woke up early to have morning rehearsal. We visited Hoi An Beach for the first time, it took only 3 minutes by walk from our Hotel. How lucky 😆


It was one of the most awesome rehearsals. Bang Ipul helped us to know more about acting because we played a bit of theatrical in our performance. Although it was only 6 am, the sun was already burning. But the sea breeze and the beautiful view around us encouraged us to keep rehearsing.

The View from my room. Pretty awesome, right :)
So, after breakfast and bath, we're ready to go to Hoi An Conference Hall for Stage Rehearsal. Luckily, it took only 2 minutes by walk from our hotel, but the Interkultur team still gave us a Bus to take us to that place. Haha, what an awesome service though it wastes too much energy for the driver. Having to pick us up and drive us to the place which actually we could get only by walking 😂 Btw, we wore red outfits!




So, that's all. We were supposed to sing in the Friendship Concert but the event was canceled due to the heavy rain. Yeah, can you believe that after we rehearsed in the daylight with a temperature of 40 degrees, the rain suddenly fell down in the evening and didn't stop until night? It was a bit disappointing because we've rehearsed but the show was canceled, but at least we had more time to rest since we would face the real competition the next day. Alhamdulillah~

Thursday, June 27, 2013

#VICC - Day 1 (19.06.13) - Arrival, The Beautiful Vietnam

So, after we transited at Changi Airport, we finally reached Hochiminh, Vietnam. The number of motorcycles in Hochiminh seems higher than the car. It's quite scary to cross the road. Luckily, we would be staying at Hoi An. It's a tourism city. Almost like Bali in Indonesia.

Hochimin from the Plane
It would take 20 hours to get to Hoi An from Hochiminh. A bus had been waiting for us. Meet my seatmate along the road, the same photographer, journalist, a very good friend of mine, Uta, or called Trombone in PSM 😆


Beautiful views along the road!

We finally reached our hotel at 4 pm. We only had 15 minutes to put our stuff in the room because we had to get hurry to go to the Hoi An Garden for Stage Rehearsal for tonight's Opening Concert. We didn't have time to rest, but we were so excited so that's okay!


We got to see choirs from different countries. This one is The Voice Weavers from Australia where most of the singers are middle-aged people. They're nice and warm people who are so friendly with us 💚


Finally, after the Stage Rehearsal, we only had about 2 hours to prepare and rehearse before the Opening Concert. The schedule on the first day was tight, but we gave our all in this because we wanted to show the beauty of Indonesian songs. We performed Ondel-Ondel and got the Judges excited. A successful opening. So proud because PSM UIN Jakarta was chosen to perform as Indonesia representative 😀

a little accident, the fireworks accidentally fell into the traditional music players and burned their clothes. Not a severe accident though, they only got their clothes perforated.
Me and Sinya in Betawi costume
they give away free lampion, this is us after the show
It was a quite tough but fun experience to start the first day in Hoi An. We felt tired but we had fun as well. Another tough day still waiting for us. Gotta rest up to pay the sleepless time during 20 hours journey. Thank you Interkultur for such an awesome event.

Wednesday, June 26, 2013

We Get The Gold!

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Time flies before our eyes, especially if you enjoy the moment. I felt like it's only yesterday when I'm about to pack all of my stuff to go to Vietnam for Choir Competition, and suddenly today, I'm already home. Maybe because these past 8 days were so amazing, fantastic, unforgettable, that before I realized it, we came to an end of this long journey. Six months of preparation and rehearsal for this competition, struggling together, almost gave up, and now here we are...... PSM UIN Jakarta's 1st Gold Medal after 21 years. More than that, I'm a part of this squad who were struggling to get it, and we did it! Of course it wouldn't happen without the help, support, and prayers from people around us.

The Peformance. We sang Tari Pasambahan, Anging Mamiri, and Anoman Obong :)


The Result: This is Kak Kromong's last project with PSM UIN Jakarta, and we have finally managed to get the GOLD! And we still get a bonus: We were chosen to participate in Hoi An's Grand Prize Competition where all choirs who could participate were selected by The Judges. Being chosen to participate in it was great, but when they announced that we also won the competition, it was beyond our expectation! :")


Thank God, Alhamdulillah. It was the sweetest ending for a long, tiresome, but fun adventure that when it finally came to end, I felt a bit sad. No more Monday, Wednesday, Tuesday's rehearsal, no more funding, no more.... :") I would like to say thanks to my fellow mezzo-soprano mates. We managed to hit the starting point of Tari Pasambahan perfectly. It was a scary note but we did it. Thanks for the hard work, guys :")


I will catch up with another post about Vietnam later. Thank you for supporting and rooting for us. I think I will stick with the choir for a while now. This is my 3rd competition with PSM UIN Jakarta whereas I only joined a year ago :") I don't know what my life would be if I didn't join the choir. What an awesome, irreplaceable experience. :")

Wassalamualakum. Wr. Wb.

Friday, June 14, 2013

Allah Blessed Us

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Avoiding myself from falling asleep because I need to get up very early and meet my lecturer for the last exam, so I write this post. Anyway, I just finished making a paper for my final assignment. Nocturnal, as always. May Allah give me health, I need it for the competition.

Talking about the competition, I only have one word to say: Alhamdulillah.

"Which favors of your Lord will you deny?" -Ar-Rahman

Allah truly blessed us, PSM UIN Jakarta. It's been 6 months of preparation, struggling together, rehearsing, and doing so many fundraising in order to make our goals and dreams come true. Allah shows His blessing to us. It felt like only yesterday that most of the members almost lose hope to go due to many different problems, but today, like in a blink of an eye, all those problems have finally been solved. Many thanks to people who have participated in this project and helped us out, and keep supporting us along the way. Thanks to our DPH, Kak Redi, Acid, and Atu for making it possible for all of us to participate in this competition. And to this squad who have been through the same tears and chasing for the same dream together. For the courage that we always give to each other. I had one of the best times when I'm with you. Now, focus on the competition. Make it the best!


The picture was taken around January when the members of the team were just announced. Some of the members left and replaced along this journey because of many different reasons. I will update it with the newest picture of the current official team later. 

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Tuesday, June 11, 2013

Diary. D-7

The last time I posted something here, I only posted a movie review. I didn't write my daily life as much as I used to. It's not because I don't want to. Actually, it's because I've started writing a diary now, hehe. I truly write all my worries, anger, happiness, there. I feel so relieved because I can spill out my thoughts without having to worry over things like people's judgment since no one can read the book. I planned to continue writing on my diary 'til the rest of my life. I think by the age of 50, I will be having 20 or 30 diaries. It will be nice to read the memories and feelings I have ever had when I was young later in the future. 

Anyway, it's 7 days away before I leave for Vietnam for International Choir Competition. This is going to be my very first time going abroad. I'm excited, though I don't think Vietnam is much different from Indonesia, but still... there must be something unique there. The competition will take place in Hoi An, I heard our Hotel is near the sea. After 6 months of preparation and rehearsal, I hope for the best result for us. We shed tears and sweat for this. Please wish us luck and safety 😀

Here a random picture because I felt this post is too empty, haha. I can't wait to see how the sea in Hoi An. I love the sea so much. This one was taken in Yogya, Parangtritis 💛

Wednesday, June 5, 2013

Discovering The Beauty of Dreams even in a Hopeless Place - Les Choristes

My first France movie ❤
Starring Jean-Baptise Maunier. 



Berawal dari pengaruh seorang teman PSM yang begitu menggemari Soprano boy, Gue pun mencoba untuk menonton film ini: Les Choristes, atau Paduan Suara. Mungkin karena sudah beberapa waktu lama ini gue mendalami dunia Padus, gue juga tertarik untuk nonton. It turns out to be one of the simplest, bittersweet yet beautiful movies I've ever watched. Film ini diproduksi di tahun 2004 dan merupakan remake dari film Prancis berjudul sama. Versi awalnya dibuat sekitar beberapa belas atau puluh tahun yang lalu kalau nggak salah. Les Choristes 2004 juga menjadi salah satu film paling nge-hits di Prancis sana.

Pierre Morhange
Les Choristes berkisah tentang masa kecil seorang musisi sukses dan terkenal, Pierre Morhange yang pada suatu hari kedatangan tamu tak diundang. Tamu itu adalah Pepinot, yang merupakan teman masa kecilnya. Pepinot datang sambil membawa sebuah buku harian milik guru mereka waktu kecil yang ternyata berisi kisah masa kecil Pierre dan Pepinot. Setelah 50 tahun berlalu, Pierre diingatkan kembali oleh perjalanan masa kecilnya, saat ia mulai menemukan bakat terpendamnya dan bagaimana musik mulai masuk ke dalam kehidupannya.

"Lend them a hand to show them a better future..."


Clement Mathieu adalah musisi gagal yang sudah berkali-kali ganti pekerjaan sampai kemudian mendapat kesempatan menjadi guru sekaligus Kepala Asrama di sekolah rehabilitasi anak-anak bermasalah, Fond de L'tang. Sekolah ini berisi anak-anak yang memiliki masalah kejiwaan, petindak kriminal, atau yatim piatu. Awalnya, ia mengira bahwa sekolah ini mendidik anak-anak bermasalah tersebut dengan cara yang baik sesuai dengan iklan yang ia baca, namun ternyata tidak. Aksi-reaksi. Begitulah tagline yang sering diserukan oleh kepala sekolah dan guru-guru disini. Ketika murid-murid berbuat salah, hukum mereka dengan berat supaya mereka kapok. Bentuk hukumannya antara lain, kurungan selama beberapa minggu, dipukul, dicambuk, dan sebagainya. Secara diam-diam, sekolah ini telah menyimpang dari yang seharusnya.

Pada awal mengajar, Mathieu dibuat kewalahan oleh kenakalan anak-anak didiknya, tapi berbeda dengan guru-guru lain, Ia tidak menangani kelakuan mereka dengan menghukum atau mengurung. Ia mencari jalan yang lebih bijak, salah satunya ketika seorang murid ketahuan telah mencelakai salah satu guru, Mathieu tidak melaporkan anak itu ke kepala sekolah, melainkan mewajibkannya untuk merawat guru yang sakit itu hingga ia sembuh. Ia tahu, anak-anak ini tidak bisa diajak berdamai dengan cara yang keras seperti yang dilakukan kepala sekolah, meski kadang ia kikuk dan malah jadi bahan tertawaan.


Mathieu ingin memberikan mereka pandangan baru, bahwa hidup mereka di sekolah ini tidak sia-sia. Mathieu ingin memberikan sentuhan baru yang bisa memberi udara segar untuk anak-anak. Ia pun memutuskan untuk membuat Paduan Suara, tak peduli meski ia harus memulainya dari awal karena sepertinya tak satupun muridnya memiliki bakat seni atau musikalitas yang baik. Selain itu, Mathieu juga harus berjuang untuk meyakinkan Kepala Sekolah bahwa ia bisa membentuk paduan suara dari anak-anak ini. Diluar ekspektasinya, paduan suara ini ternyata cukup menarik perhatian murid-muridnya. Perlahan, ia mendapatkan perhatian dari mereka. Dan perlahan, kesenangannya untuk berkesenian kembali. 


Sentuhan baru ini membuat anak-anak mulai menghormatinya, kecuali satu orang: Pierre Morhange. Anak laki-laki berwajah malaikat tapi paling sering membuat masalah. Sejak awal, Mathieu sudah diingatkan bahwa Pierre harus diawasi karena sikapnya yang dingin tapi diam-diam pengacau. Pada saat audisi penentuan ambitus suara, Pierre tidak ikut karena sedang berada di kurungan akibat berulah beberapa hari sebelumnya dan ketika ia kembali, ia menolak bergabung dengan Paduan Suara dan menolak saat diminta bernyanyi. 

Belum selesai permusuhan dengan Pierre, muncul lagi anak lain yang harus ditanganinya: Mondain. Di antara semua kasus, dialah yang paling berbahaya. Anak ini diserahkan langsung oleh Psikiater yang telah menyerah menanganinya karena sudah melakukan terlalu banyak tindak kriminal di sekolah lamanya. Mondain pun sama membangkangnya, bahkan melebihi Pierre, ia menindas anak-anak lain dan memprovokasi mereka untuk melawan sekolah. Mondain merasa Pierre mirip dengannya dan mengajaknya untuk sama-sama mengacaukan sekolah, tetapi Pierre menolak. Ia lebih senang menikmati kenakalannya sendirian.


Suatu hari, ketika Mathieu sedang mengecek ruang-ruang kelas di malam hari, ia mendengar suara seseorang menyanyikan lagu miliknya yang diajarkan ke Paduan Suaranya. Suara tinggi soprano, lembut, yang menggetarkan hatinya, dengan pitch yang sangat baik. Ternyata suara itu milik Pierre yang diam-diam masuk ke kelas dan mempelajari lagu Paduan Suara Mathieu. Suara Pierre merupakan sebuah keajaiban yang langka bagi Mathieu, lebih dari itu, ia bahkan memiliki musikalitas yang sangat baik karena mampu mempelajari lagu miliknya dengan cepat. Namun, sepertinya Pierre tidak menyadari hal itu. Dengan alasan menghukum Pierre yang berjalan-jalan pada malam hari, Mathieu mewajibkan Pierre untuk mengikuti latihan Paduan Suara. 

Perlahan, Mathieu menarik penyanyi baru ini keluar dari cangkangnya. Dan tanpa diduga, Pierre menemukan passion-nya untuk pertama kalinya. Pada waktu senggang, Mathieu menyempatkan diri untuk melatih Pierre mengembangkan kemampuan vokalnya yang cemerlang, dan Pierre menurutinya. Mathieu memberi Pierre kesempatan untuk menyanyikan bagian-bagian solo dari lagunya. Seiring waktu, Mathieu terus dikejutkan oleh bakat alami dan suara malaikat yang dimiliki Pierre. Paduan suaranya yang dulu mentah semakin lama semakin terbentuk dengan baik. Mathieu seakan mendapatkan siraman optimisme terhadap cita-citanya yang pernah hilang. Anak-anak ini menginspirasinya.


Kasus istimewa lainnya adalah Pepinot, anak paling kecil di kelasnya, anak yatim piatu yang setiap hari Sabtu selalu berdiri di depan gerbang sekolah dengan harapan suatu hari ayahnya akan datang menjemputnya. Padahal, kedua orangtuanya sudah meninggal, dan meski sudah diberitahu akan hal itu, Pepinot terus saja menunggu di depan gerbang itu. Mathieu menaruh perhatian khusus pada anak kecil ini. 


Kisah ini tidak berhenti ketika Paduan Suara Mathieu terbentuk dengan baik. Mathieu masih harus berurusan dengan Mondain yang sampai akhir tidak bisa berubah dan menaruh dendam pada sekolah, Kepala Sekolah yang keras kepala dan menganggap anak-anak itu harus selalu dihukum, dan bahkan dengan Pierre yang tidak suka jika gurunya mendekati ibunya. Pierre sempat dilarang menyanyikan bagian solonya karena membuat ulah. Namun, pada hari dimana Paduan Suara mereka tampil di depan petinggi kota dan sekolah, tanpa diduga, Mathieu memberikan kesempatan pada Pierre untuk menyanyikan bagian solonya. Pierre kemudian menyanyikannya dengan sepenuh hati, dengan rasa syukur atas pengampunan dari Mathieu dan untuk pertama kalinya merasakan kebanggaan karena bernyanyi di depan banyak orang, dimana suaranya berhasil menggetarkan hati semua orang yang datang saat itu.

Bittersweet Ending
I think this movie has the best ending. It's not a happy ending, but realistic one which gives us hopes. I love the last statement from Pierre when he remembered Mathieu. Mathieu adalah orang yang mengenalkannya pada musik dan memberikannya mimpi yang tak pernah diduganya. Mathieu yang membawa perubahan pada sekolahnya dan teman-temannya dengan kesabaran dan kegigihannya.

"Mathieu melanjutkan memberi pelajaran musik sepanjang hidupnya tanpa keinginan untuk tenar. Semua yang dilakukannya dia simpan untuk dirinya sendiri..."

Di film ini, Paduan Suara seperti dasar untuk pengembangan kisah ini. Pengaruh dari keberadaan paduan suara terhadap anak-anak rehabilitasi. I rated it 100 out of 100. It was so beautiful :') And the soundtracks are so lovely. My favorite is this one:


Recommended. You'll fall in love with the soundtracks, the movie, and with Jean-Baptise Maunier 💗